Tuesday, August 30, 2005

Adipati KARNA

Kisah Sang Adipati KARNA


Diceritakan kembali oleh : M. Ni'mal Fata
http://members.tripod.com/~pasitb/kippas.htm

"Tidak! Ibu! Saya memang anak Ibu, namun hamba diberi makan oleh Hastina. Apakah Ibu akan membiarkan anakmu ini untuk tidak tahu diri dengan tidak membalas kebaikan penguasa Hastinapura terhadap saya?" sahut Karna ketika ibunya, Dewi Kunti membujuknya untuk memihak Pandawa sebagai pihak yang 'benar' dalam Bharata Yudha (perang saudara).

Bharatayudha merupakan salah satu episode dalam cerita wayang, di mana terjadi perang saudara akibat kekeraskepalaan Kurawa yang tidak mau menyerahkan hak Pandawa.

"Mereka 'kan saudara kandungmu, Nak!" bujuk Kunti yang rupanya tidak tega melihat anak-anaknya saling berbunuhan.

"Maafkan saya, Ibu! Bukan saya tidak berbakti, tapi Hastina sudah menjadi tanah air saya, saya bukan membela kejahatan Kurawa, tapi saya membalas budi baik Kurawa yang telah memelihara saya dan juga membela Hastina sebagai tanah air. Saya adalah ksatria, Bu! Maaf, sekali lagi maaf. Sudah menjadi dharma saya selaku ksatria harus membela negara saya. Rasanya sangat tidak sopan dan tidak tahu diri kalau saya tidak mendukung dan mempertahankan negara saya, karena Hastina diserang oleh Pandawa. Itu pendirian saya, Ibu. Harap Ibu maklum." Dewi Kunti pun putus asa, demikian kuat pendirian putranya.

Sesungguhnya juga ia khawatir akan keselamatan anak-anaknya, terutama Pandawa yang dalam peperangan mendatang ini sebagai pihak yang "benar".

***

Alkisah, terjadi persaingan klasik antara Karna dengan Arjuna. Keduanya sama-sama tangkas dan trengginas. Sama-sama cerdas dan murid kesayangan Durna. Semasa kecil, Karna sering diejek oleh para Pandawa, karena dianggap anak kusir, jadi dianggap tidak sepadan dengan mereka yang memiliki kasta ksatria. Namun oleh Kurawa ia disenangi serta 'dipelihara' karena hanya dia yang bisa mengalahkan Arjuna dalam memanah dan berbagai ketangkasan lainnya. Dan ketika Duryudana menjadi raja, ia diberi gelar Adipati. Sehingga namanya menjadi Adipati Karna.

Sejak kecil mereka (Pandawa dan Kurawa) sudah bersaing dalam berbagai hal. Dan selalu saja Kurawa dalam pihak yang kalah. Kemampuan mereka jauh di bawah Pandawa, terutama Arjuna.

Karna, walaupun dianggap anak kusir, karena kusir istana memelihara dia sejak bayi setelah menemukannya di sungai terapung-apung dibuang oleh Dewi Kunti, ibunya, setelah berhubungan gelap dengan Bathara Surya Sang Dewa Matahari. Sedangkan Arjuna adalah anak Dewi Kunti dari Bathara Indra, Dewa Hujan. Sama-sama sakti dan cerdas. Keduanya juga susah untuk bersatu.

Setiap mau bertarung, dalam hal apa pun, ayah mereka akan melindungi putranya masing-masing. Jadi, mereka memang lawan yang seimbang. Itulah salah satu tujuan Kurawa memelihara Karna, sebagai tandingan Arjuna yang tidak dimiliki oleh Kurawa. Sampai-sampai pernah diadakan semacam pertandingan antara Pandawa dan Kurawa. Dan lagi-lagi, Karna ikut, walaupun dia bukan dari golongan mereka waktu itu, dan memang hanya Karna yang dapat menandingi Arjuna dalam ketangkasan.

***

Perang pun terjadilah. Pertarungan antara Adipati Karna dengan Arjuna demikian sengitnya. Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Sama-sama sakti Mandraguna. Dan seperti kebanyakan cerita-cerita klasik, Arjuna yang membela Pandawa (kubu 'kebenaran') pun menang setelah mengeluarkan panah Pasopati, senjata pamungkas pemberian ayahnya sewaktu ia bertapa sebelum pecahnya perang saudara.

Karna, karena berpihak kepada Kurawa (kubu 'salah') meskipun ia membela Hastina negerinya, bukan keangkaramurkaan Kurawa, harus puas menerima nasib sebagai pihak yang gugur dan dikalahkan.

Demikian skenario para dewata. Apakah itu hukum alam? Skenario yang disusun memang seperti itu, sehingga Kurawa harus kalah.
Meskipun Adipati Karna ada di pihaknya, meskipun Resi Bisma, resi mahasakti tak terkalahkan, figur ksatria ideal dan teladan yang rela berkorban untuk hati nuraninya, yang sampai-sampai dia boleh memilih sendiri hari kematiannya, sebelum dia mau dia belum mati, meskipun ribuan panah menancap di dadanya, meskipun racun yang ganas menyerang tubuhnya, meskipun sejuta tebasan golok di lehernya. Dan kenyataan yang diterima memang demikian.

***

Karna bukannya tidak tahu penyebab perang saudara, bukannya tidak mengerti bagaimana Sengkuni selaku Mahapatih Hastina yang penjilat dan 'pengadu domba' ulung itu yang karena dendam pribadinya kepada ayah Pandawa (Pandu Dewanata) –lebih jauh baca buku-buku tentang Mahabharata--, 'mengkilik-kilik' Kurawa agar terjadi perang saudara tersebut.

Pihak Pandawa dengan dibantu Kresna berusaha sekuat tenaga menghindari perang saudara itu, namun Sengkuni selalu membujuk Kurawa agar meneruskan pertentangan menjadi perang. Karna tahu semua itu. Dia bahkan tahu luar dalam bagaimana pribadi dan akhlak Pandawa yang terpuji, berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan Kurawa.

Namun, kembali lagi, Karna hanya membela tanah airnya, Hastinapura. Karena hutang budinya itulah, dia mempertaruhkan nyawa dan bahkan kehormatannya selaku ksatria dengan rela dianggap pembela kejahatan. Dia hanya menuruti apa kata hati nuraninya.

***

Dan, akhrinya Karna pun berada di Nirwana bersama Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa (Pandawa Lima), Bhisma dan juga ksatria lainnya. [N.F] Bandung, 14 Oktober 1997
.

Read more!

Monday, August 29, 2005

WELCOME

.
ALMOST entire Warriors has been sent to their grave before nobody knows them.

Most people told that they have been gift by the royal blood.
NO, the warriors not 'The Royal Blood' Legacy, and most of them are ennobled.

We don’t need any noble…
There’s no right or wrong, true or false, this is the way of a man.

The Warriors LEVEL are how many tears and blood they've been spent, how many of heart of their sacrifice.

And I am one of them, The watcher...

CONTINUING THIS LEGACY...

Knight of Warriors


Read more!